Sepatu Dahlan

 

Sabtu,20 Juli 2012
Sepeda motor yang di kendarai seorang berjaket dan berhelm hitam itu berhenti di teras rumah saat aku dan “lik” ku,biasanya ku memanggilnya duduk santai disana. Aku pikir dia sales unilever atau wings atau apapun yang biasa kesini. Tapi pikiranku salah ketika aku melihat seperti sebuah buku yang di bungkus kertas coklat yang dililitkan tali di boncengan sepeda motornya. Dia bukan sales, mungkin petugas Tiki yang mengantarkan paket untukku. Bungkusnya sama seperti yang aku terima beberapa bulan lalu.

Aku memperhatikannya. Helm Ia lepas dan langsung Ia letakan di stang motornya lalu turun dan mengatakan kepada kami berdua, aku dan lik ku “Mar’atus”. Tepat dugaanku. Novel ku datang. Langsung aku berdiri dan menghampirinya dan menjawab “nggih pak, kulo, paketan?
Sambil menjawab iya, Ia mengambil paketan tersebut dan memberikannya padaku.
“Mbokan sih libur puasa pak,soale kulo nunggu paketane koh mboten dugi-dugi….”kataku yang sudah beberapa hari menunggu novel yang aku beli online tersebut datang dan berpikir mungkin akan terlambat sampai kerumah karena Agent Tiki libur 3 hari pertama.
“Wah, mboten wonten libure mba” Jawabnya.

Setelah tanda tangan, aku dan Ibu yang menghampiri kami mempersilahkannya masuk tapi Ia tolak. Jarak kota Tegal dengan Desa di daerah gunung, Jejeg tepatnya tidaklah dekat. Butuh waktu satu setengah jam. Perjalanan pasti melelahkan. Apalagi saat puasa dan terik matahari seperti ini.

Sepatu Dahlan. Itulah novel yang yang aku beli secara online di bukukita.com. Novel yang terinspirasi dari kisah nyata Dahlan Iskan, Menteri BUMN Indonesia sekarang. Ditulis oleh Khrisna Pabichara yang membuatku ingin terus membalik halaman dan halaman selanjutnya.

Dahlan Iskan yang semasa kecil dan remajanya sangat dekat dengan kemiskinan. Lapar adalah hal yang sudah sangat biasa. Nyeker alias berjalan tanpa alas kaki saat menempuh perjalanan berkilo-kilo meter menuju sekolahnya sudah biasa Ia lakukan. Bukti perjuangannya menuntut ilmu. Untuk mengganjal perutnya pun, banyak pekerjaan yang Ia lakukan seperti menggembala domba-domba, nguli nandur sampai melatih voli anak anak juragan tebu. Semua itu tak membuat Dahlan putus asa. tak juga berarti keceriaan masa kanak-kanaknya hilang. Ketegasan sang ayah serta kelembutan sang ibu membuatnya bertahan. Persahabatan yang murni menyemangatinya untuk terus berjuang. mempunyai sepeda dan sepatu adalah cita-cita dahlan. Cita-cita besar bagi anak miskin kebon dalem seperti dirinya tapi harus berjuang keras mendapatkannya.

Walaupun tidak tertulis dalam novel,bagaimanapun dahlan dengan sepatu barunya(kelas 3 Aliyah) harus dia gunakan hanya setiap hari senin. Karena di hari senin itulah dia menjadi petugas upacara dimana hari-hari senin sebelumnya, dia menjadi satu-satunya petugas upacara yang nyeker. Begitulah penuturan beliau saat menjadi bintang tamu di acara KickAndy.

Aku teringat dengan lagu Iwan Fals yang berjudul “Siang di pelataran SD Sebuah Kampung”. Mungkin seperti itulah kira-kira gambaran nasionalisme Dahlan Kecil.

Sentuhan angin waktu siang
Kibarkan satu kain bendera usang

Di halaman sekolah dasar
Di tengah hikmat anak desa nyanyikan lagu bangsa
Bergemalah

Tegap engkau berdiri walau tanpa alas kaki
Lantang suara anak anak disana

Kadar cinta mereka tak terhitung besarnya
Walau tak terucap namun bisa kurasa
Bergemalah

Ya ha ha hau
Harapan tertanam
Ya ha ha hau
Tonggak bangsa ternyata tak tenggelam

Dengarlah nyanyi mereka kawan
Melengking nyaring menembus awan
Lihatlah cinta bangsa di dadanya
Peduli usang kain bendera

Masa remaja Dahlan pun dihiasi dengan perasaan suka dan kekagumannya pada sosok cantik bernama Aisha. Begitupun perasaan Aisha terhdapnya. inilah isi surat dari Aisha yang dia titipkan pada Arif, sahabat Dahlan untuk diberikan padanya.

Dahlan, sebenarnya aku tahu kita menyimpan keinginan yang sama. Sayang, tak ada diantara kita yang berani memulai. Aku,juga kamu. Sama-sama pemalu untuk urusan hati. Padahal, aku tahu kamu selalu berhenti di depan rumahku, menungguku keluar dan menjemur pakaian di samping rumah, dan setelah itu kamu bergegas sembari menoleh berkali-kali.
Aku juga tahu kamu gugup ketika kita pulang latihan bola voli dan lebih gugup lagi sewaktu rantai sepedamu putus. Dulu, aku selalu sengaja tidak bersepeda karena aku ingin pulang denganmu. Tapi, sekali lagi, masing-masing kita terlalu pemalu.
Minggu depan aku harus berangkat ke Yogya, kuliah di sana. Tiga tahun lagi,setelah kita berdua lulus sarjana muda, kita bertemu di takeran. Itulah harapanku. Dan semoga, harapanmu juga.

Yang menunggumu, Aisha.

Dahlan merasa sangat bahagia tapi juga tertegun karena satu kalimat ganjil “setelah kita lulus sarjana muda” barangkali itulah syarat yang harus dia penuhi jika sungguh-sungguh mengharapkannya.
Bukan karena surat Aisha yang membuat dahlan ingin melanjutkan sekolah. Tidak ada ataupun ada surat, dahlan memang memiliki keinginan untuk kuliah. Tapi, keadaanlah yang membuatnya berpikir panjang dengan cara apa dia kuliah dan keadaan itulah yang memaksa dahlan untuk tidak terlalu mengharapakan Aisha. Setelah beberapa hari,akhirnya bapak dahlan membolehkannya menyusul kakaknya di samarinda dan kuliah disana.

Dan jawaban untuk surat Aisha pun ia tulis,

Di jantung rinduku kamu adalah keabadian
Yang mengenalkan dan mengekalkan kehilangan
Kita bertemu di Stasiun Madiun, besok pagi pukul 09.00
Tiga tahun terlalu lama untuk sebuah pertemuan

Tidak seperti lagu didi kempot yang harus berpisah dengan kekasihnya di stasiun balapan solo. Di stasiun Madiun, akan ada pertemuan dua orang remaja yang diam-diam telah lama memendam rasa. Dahlan dan Aisha.

Tapi, aku tidak tahu apakah pertemuan itu akan terjadi atau tidak karena inilah akhir cerita novel sepatu dahlan. Aku berharap di kehidupan dahlan selanjutnya, tentunya di novel ke duanya, pertemuan itu akan ada.:)

2 thoughts on “Sepatu Dahlan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s