Seburuk Itukah Pemikiranmu?

Luapan kekesalan dan kemarahan dia tumpahkan dalam tulisan. Seburuk itukah pemikiranmu terhadapku? Kata-kata tajammu,aku tahu semua ditujukan kepadaku. Sebutan itu, juga kau tujukan untukku. Sebutan yang sangat-sangat tidak pantas dan tidak bisa aku terima. Ada rasa sesak di dada dan tak tahu harus ku ungkapkan kepada siapa? Hanya dengan menulis membuat ku merasa sedikit lebih lega.

Tuhan….Apa yang sebenarnya Engkau rencanakan?Kenapa Kau biarkan dia mempunyai pikiran seburuk itu terhadapku? Padahal Engkau tahu betul, tidak sedikitpun aku salah mengartikan ungkapan persahabatannya dan ada rasa tulus di sini, untuk menyambutnya. Menyambut ungkapan pertemanannya, persahabatannya.

Mungkin aku sudah berteman jika tidak ada yang salah mengartikan, jika ada yang menjaga ucapannya atas apa yang didengarnya yang hanya dari satu pihak. Kenapa tidak kau ceritakan ketegasanku mengatakan jangan? Kenapa tidak kau ceritakan pengakuanku yang mengatakan tidak? Dia……….Jika ingin bercerita, berceritalah yang seutuhnya. Jangan setengah-setengah dan membuat orang salah paham.  Dan tiyang2 sedoyo, mba-mba, mas-mas, semuanya…..sampun pada ngegosip.

Dan semuanya pun berubah. Dia jauh dan semakin jauh. Kata-kata tajamnya,sebutannya untukku make so sad and wanna cry. Bukan ingin,tapi sudah. My tears are falling down from my eyes. Apakah dia sadar apa yang dia perbuat membuat orang lain sangat terluka? Apakah sebutan itu pantas ditujukan kepadaku? Seburuk itukah pemikiranmu terhadapku? Mendengar penjelasan dari ku pun belum pernah.

Marah?Aku pun sama. Karena aku tidak seperti apa yang kamu tulis.

Dalam hati aku hanya bisa menyalahkan dia dan mereka. Aku diam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ibarat nasi yang sudah menjadi bubur,kata-kata yang telah diucapkannya tidak mungkin bisa terhapus. Menyalahkan mereka pun tidak ada gunanya,tidak akan bisa merubah apapun. Saat aku ungkapkan kekecewaan dan kekesalanku kesalah satu mereka pun,jawabannya tidak seperti yang aku harapkan. Ada rasa suudzon(meskipun tidak boleh)dia ingin menjatuhkanku. Membuatku tak nyaman. Terpikir dia pasti senang ketika mengetahui dia sangat-sangat membenciku. (maaf). Jika tidak senang, jika memang perhatian, seharusnya dia memberitahu ku apa yang dia tulis. Bukan malah diam dan membiarkan aku tidak tahu apa-apa. Membiarkan ku mengetahui ini sendiri dan sangat terlambat.

Berterimakasih kepada mu Tuhan yang telah menunjukkan kepada ku seperti apa dia. Meskipun terlambat. Berharap dia membaca unek-unek yang aku tulis disini. Dan saat membacanya pun, mungkin ada rasa ketidakpercayaan karena rasa kebenciannya yang sudah mengakar. Tapi sebagai manusia,kita tidak boleh suudzon bukan? Siapa tahu dia jadi sadar,sesadar sadarnya. Semoga tuhan meluruskan pemikiranmu yang sudah membelok.

#Dan kita pun salah menilai dia.

2 thoughts on “Seburuk Itukah Pemikiranmu?

  1. Hallo Mbak aku berkunjung🙂
    Mengenai dia yg membencimu itu semoga terbuka simpul2 komunikasinya ya. Kebencian biasanya punya reason. Dibelakang reasons pasti ada penjelasan. Selamat berjuang ya Mbak dan tetap semangat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s