Wakil Rakyat Klampis Ireng

Akhirnya, buku yang aku beli online di BukuKita.com sampai ke rumah juga. Petugas Tiki yang biasa mengantar paketan bingung mencari alamat rumahku. Bukan karena salah alamat kaya ayu ting ting tapi karena di alamat tertulis Mar’atus Sholikhah, nama lengkapku. Sedangkan kebanyakan orang di sini hanya tahu nama ku adalah Lia, jarang sekali yang mengetahui bahwa nama lengkapku adalah Mar’atus Sholikhah. Pantas saja kalau mereka bingung. Mar’atus Sholikhah siapa? Wong ngga ada kata Lia disana. Masih mending kalau Vina Panduwinata di panggil Vina. Beruntungnya, dua, tiga tetanggaku tahu dan sampailah buku ke alamat yang dituju.

Dari  37 judul yang ada di buku karya Sujiwo Tejo “ Ngawur Karena Benar”, ada beberapa yang  paling aku suka, seperti : Wakil Rakyat Klampis Ireng, Tentang Buriswara Berwajah Gayus, Memasuki Milenium Sengkuni, Gang Landak di Kampung Naga, Orang  Semenanjung itu Telah Semakin Masuk, dan Tak Ada Salahnya Jadi Kaum Optimis.

Sedikit berbagi saja, hari ini akan aku tuliskan cerita yang berjudul wakil rakyat klampis ireng. Bermula dari Bagong yang bersedih. Tiba-tiba dia kepilih jadi wakil rakyat. Pelantikannya ya baru kemarin, sehari sebelum Unesco mengakui batik sebagai warisan budaya dari Indonesia.

Makanya, berbeda disbanding wakil-wakil rakyat lain yang pakai jas walaupun di Negara tropis, walaupun panasnya kayak gini, Bagong lebih memilih pakai Batik.

“Dulu, Nelson Mandela yang mimpin Afrika Selatan saja gemar Batik, masa kita malah ikut-ikutan bule mengenakan jas? Jas itu kan mestinya untuk di tempat-tempat yang hawanya dingin.”

Itu biasanya nasihat yang kerap didengarkan Bagong, bungsu Semar. Makanya, sejak tiga hari sebelum pelantikan dia rajin keluar masuk pasar Klewer di Surakarta, mencari berbagai motif batik yang kira-kira cocok untuk dibaiat menjadi wakil rakyat.

“Kok nggak pakai jas saja. Memang iklim kita ini tropis, tapi kan bisa pakai AC,” kata teman-teman Bagong.

Ya justru itu. Bagong nggak mau yang dingin cuma ruangan –ruangan dalam, tapi lingkungan luar makin tambah panasnya. Bagong nggak mau ikut dalam menambah panas lingkungan karena penggunaan AC.

Apalagi belakangan ini listrik sering mati. Di kota praja banyak perempuan keramas di salon, tiba-tiba pas pengiringan rambut listrik mati. Ke salon pengin cantik. Pulangnya malah acak adul. Nanti bagaimana kalau listrik makin sering mati dan AC nggak nyala. Pasti kalau pakai jas, Bagong tambah kepanasan.

Tak heran Bagong meninggalkan jas. Dia lebih memilih Batik. Batik akhirnya sudah diperoleh adik Petruk dan Gareng ini. Motifnya kawung, digabung dengan parang garuda dan parang rusak. Muncul juga sedikit motif sido mukti di beberapa aksennya. Oya, ada sedikit nuansa motif mega mendung dari Cirebon.

Gabungan motif-motif dari berbagai daerah itu, termasuk motif pagi sore dari Pekalongan, semestinya membuat Bagong sumringah. Karena mencari di belahan dunia manapun, tak bakal ada. Yang di pakai Bagong saat pelantikan wakil rakyat itu mungkin satu-satunya di dunia. Belum lagi, ada sentuhan warna-warni Batik Madura di sana- sini.

Bagong harusnya semakin percaya diri dengan batik uniknya itu. Apalagi partai Bagong menjanjikan akan menyekolahkan Bagong ke kursus singkat menjadi wakil rakyat, semacam bimbingan yang diberikan oleh mantan Ketua mahkamah Konstitusi Prof Jimly Asshiddiqi kepada para Anggota DPR terutama dari kalangan artis.

Itupun ngaak membuat Bagong hepi. Karena menurut Bagong, mau pakai batik atau jas, wakil rakyat itu tetap sama. Yaitu, mereka lebih rendah disbanding rakyat yang sudah rendah. Namanya saja wakil.

Wakil rektor masih mendingan. Karena rektor jabatan tertinggi di kampus. Menjadi wakil rektor tentu masih tinggi. Begitu pula wakil kepala sekolah, wakil Kapolri, wakil presiden. Nah, kalau wakil rakyat?

Berarti sebagai wakil rakyat, Bagong akan disuruh-suruh oleh rakyat. Kalau perlu rakyat boleh memarahinya. Dan yang paling penting, menurut Bagong, mulai besok dia harus kursus, di saming kursus yang dibikin oleh Jimly.

Bagong akan kursus bahasa jawa kromo inggil. Selama ini, ketika masih berkedudukan tinggi sebagai rakyat, Bagong Cuma bias bahasa jawa ngoko. Tapi karena mulai besok dia turun pangkat menjadi wakil,mau nggak mau dia harus bias bahasa Jawa kromo Inggil. Bahasa Kromo Inggil artinya komunikasi dengan penuh penghormatan, menurut Bagong harus dipakainya ketika berdialog dengan tokoh yang diwakilinya alias dengan atasannya, yaitu kita.

Ketika Bagong naik mobil wakil rakyat nanti, berpapasan dengan rakyat yang sedang perlu mobil, misalnya karena istri rakyat itu akan melahirkan, ya Bagong harus turun dari mobil dan menyerahkannya kepada calon ayah tersebut.

Masyarakat pada arus balik Lebaran boleh mengajak siapapun keluarganya di udik untuk ikut ke kota praja. Rakyat nggak perlu takut saudaranya itu akan jadi gelandangan di kota praja. Datang sajake rumah wakilnya, yaitu Bagong.Panakawan ini harus mau ke luar rumah, agar rumahnya bias diisi oleh atasannya, yaitu calon gelandangan tersebut.

Dan banyak lagi perkara yang bikin Bagong sedih. Petruk dan Gareng, kakak Bagong, berkali-kali menghibur Bagong. Kata mereka, Enak lho jadi wakil rakyat. Polisi dan petugas nggak bias seenaknya menangkap Bagong. Diperlukan ijin khusus dari raja bila ingin menangkap Bagong.

Bagong heran dengan hiburan jenis itu. Menurutnya, dia tergerak untuk menjadi wakil rakyat bukan karena ingin mencuria atau merampok atau melakukan perkara kriminal lainnya. Jadi, menurut Bagong, perlindungan raja dari petugas penyilidik dan penyidik tak dia perlukan.

Kocap Kacarita, raja Darawati Sri Kresna akhirnya dari kejauhan mendengar kesedihan di klampis Ireng, padepokan Semar dan anak-anaknya. Kresna mengirimkan anak yang paling disayanginya , Raden Samba, menuju Klampis Ireng menemui Bagong.

Raden Samba yang tampan dan selalu berpakaian gemebyar tak diberi pesan apa-apa oleh Kresna. Pokoknya,kata Kresna, Samba hanya dating saja memperlihatkan dirinya di depan Bagong. Habis itu Samba boleh pergi.

Hanya Raden Setyaki, Paman samba, yang menyertai kepergian Ksatria dari Parang garuda ini, yang tahu maksud Kresna. Kresna ingin memperlihatkan betapa menariknya harta benda kepada Bagong. Harta Benda berupa perhiasan dan pakaian itu lengkap ada pada Raden samba yang kebetulan juga tampan.

Harapan Kresna, Bagong bias hepi dilantik jadi wakil rakyat karena Bagong sudah bias membayangkan enaknya harta benda.

Apakah dengan kedatangan Raden Samba yang gemerlapan ini kemudian Bagong berubah jadi riang, membayangkan keadaannya kelak senagai wakil rakyat?

Wah, kedatangan Raden Samba yang bukan wakil rakyat itu belum terjadi. Dan saya bukanlah ayahnya, yang tahu peristiwa-peristiwa yang akan terjadi.

#20. Wakil Rakyat Klampis Ireng, hal 135.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s