Mengatasi Anak Penakut

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Pendiri Pelatihan Orangtua PSPA

http://www.auladi.org | inspirasipspa@yahoo.com

 

Anak takut gelap? Takut badut? Takut dengan binatang? Takut cacing? Masa sih? Sebelum ngomong soal anak, coba siapa diantara Anda, orang dewasa, orangtua, yang jika lewat komplek pemakaman (kuburan), malam hari, jalan kaki sendirian, apa yang Anda rasakan? Biasa saja atau tidak biasa? Tidak gimana-gimana kok atau merasa gimanaaaa gitu….. ?

 

Soal takut anak, kita simak salah satu curhat orangtua berikut: “Assalamualakum abah. Mohon petunjuknya. Saya pernah ikut kelas orangtua Abah di Jambi. Tapi waktu itu belum ada masalah ini. Anak saya yang pertama, Alif-7 tahun, laki-laki, penakut. Dulu tak ada masalah dengan kakaknya. Emang bener anak-anak itu beda-beda. Kemana-mana mau ditemani. Cuci tangan ke kamar mandi, di kamar, nonton tv, main di luar. Padahal rumah kami kecil. Kalau dia lagi nonton tv dan saya di kamar masih bisa terlihat.

 

Kalau ditanya alasannya ada aja, di kamar mandi takut ada cacing (memang pernah ada cacing), di ruang tv takut laba-laba (memang pernah ada laba-laba), di kamar takut mati lampu, di luar takut geledek. Saya pernah bilang bahwa ada Allah yang selalu menemani, tapi dia bilang Allah kan nggak keliatan.

 

Kalau lagi tidak repot ya masih bisa ditemani. Tapi saya takut ini terus berlanjut sampai dia lebih besar. Mohon sarannya ya abah. Terima kasih.”

 

Sebenarnya, lepas dari ada pengaruh televisi atau tidak, pengaruh teman atau tidak, dalam batas tertentu anak merasa takut sesuatu itu adalah wajar.  Pun sebagian orang dewasa masih merasakan rasa takut sampai hari ini. Setidak-tidaknya dua rasa takut yang masih sering kita rasakan: takut suara keras dan takut soal ketinggian. Apa yang Anda rasakan ketika suara halilintar bergemuruh di tengah hujan deras? Apa yang kita rasakan saat kita berada atap terbuka di puncak sebuah gedung puluhan lantai ketika kita melihat ke arah bawah? Ketika travelling, khusyuk mana doa Anda: di dalam dalam mobil sebelum berangkat atau di dalam pesawat sebelum take off?

 

Bahkan sejak, anak-anak kita memiliki ketakutan alamiah tadi. Mau bukti? But please dont try this at home! Karena jangan pernah salahkan saya jika akibatnya lebih dari sekadar nangis, tapi juga keberlangsungan syaraf-syaraf otak anak sendiri. Coba saja, di dekat bayi, letuskan balon dengan suara keras, banting meja atau kursi ke lantai dengan suara keras, bunyikan musik dengan dentuman sangat keras secara tiba-tiba, lihat apa yang akan terjadi. Atau ajak main bayi diangkat ke atas. Awalnya bayi Anda akan ketawa, ketawa, tapi coba sesekali lempar ke atas dan lalu Anda tangkap lagi. Cukup lakukan tiga kali, lalu lihat dan rasakan perubahan ekspresi mukanya. Anda akan menemukan bukti-bukti nyata ini.

 

Tapi sebagian besar ketakutan anak kita sebenarnya adalah hasil ‘rekayasa’ bukan alamiah dari sononya begitu. Rekayasa ini bisa berbentuk dua hal: pertama akibat pengaruh informasi baru yang diberikan orang dewasa kepada anak tersebut (ditakut-takuti) atau yang kedua, berdasarkan pengalaman nyata yang pernah dialami anak tersebut.

 

Ketika bayi belum memiliki informasi apapun, sebagian mereka tidak pernah takut dengan cacing, tikus, kucing atau kodok.  Mereka akan memegang kodok, kecoa, cacing, kucing dengan tanpa rasa takut sama sekali.  Tapi jika informasi yang diberikan ini tidak tepat, maka semakin besar ketakutan ini semakin banyak dan justru tidak produktif untuk anak.

 

Misalnya ketika orangtua bermaksud baik untuk menghindari anak dicakar kucing, lalu kemudian berusaha menjauhkan anaknya dari kucik dengan perkataan “jangan pegang kucing, kucingnya galak!” maka anak bisa jadi akan takut kucing jika informasi ini terus diulang. Padahal jika didekati dengan lembut, kucing juga tidak akan galak-galak amat. Contoh lain adalah ketika seorang ibu takut kecoa dan ketika pada saat melihat kecoa begitu heboh, dan lalu anak melihat ketakutan ibunya akan kecoa, maka ketakutan ibu ini dapat “menular” pada anak. Apalagi jika sekeluarga takut kecoa: neneka, kakek, bibi, paman, maka kemungkinan menular pada anaknya bisa sangat besar. Atau sebab yang kedua, anak menjadi takut kucing karena dia pernah mengalami dicakar kucing saat anak ini memegang ekor kucing dan lalu kucingnya marah “miaaaaw!”

 

Ketakutan juga bisa jadi bermanfaat untuk manusia. Ini adalah respon tubuhnya untuk melindungi tubuhnya secara alamiah. Tidak terbayang kalau manusia tidak memiliki rasa takut, bisa mudah celaka kan. Misalnya, saat balita di jalan, terus dia lihat ular berbisa di jalan, eh langsung dia tangkap ekornya, bahaya kan?

 

Jangankan anak-anak, orang dewasa punya rasa takut juga normal. Sebagaimana perasaan sakit dan lapar, rasa takut sengaja diciptakan Allah untuk kepentingan manusia sendiri.  Itu adalah respon tubuh manusia untuk melindungi dirinya.

 

Rasa takut itu bisa diibaratkan seperti rasa sakit yang ada manusia. Mengapa Allah menciptakan sakit karena Allah sayang sama manusia dan memang demi kepentingan manusia sendiri. Tak kebayang jika manusia tak pernah memiliki rasa sakit, manusia bisa cepat musnah di muka bumi lebih cepat daripada yang dibayangkan.

 

Misalnya, tubuh bagian belakang kita kena paku, lalu berdarah, lalu sedikit pun kita tak merasa sakit, karena misalnya Allah tak menciptakan rasa sakit itu. Apa yang terjadi kemudian? Darah dari tubuh lama-kelaman akan habis dan tanpa sempat menyelamatkan diri manusia kemudian mati! Meski mati itu sendiri takdir Allah, tapi manusia diperintahkan Allah berikhtiar menjaga amanah tubuh itu sendiri. Signal penjagaan untuk tubuh itu salah satunya yang diberikan adalah rasa sakit tadi.

 

Apalagi jika misalnya anak yang dicurhatkan orangtua tadi termasuk introvert. Anak ini yang cenderung punya kehati-hatian yang tinggi, lihat orang baru, ngumpet. Lihat binatang bergerak, menjauh. Ekspresi dari sifat anak yang hati-hati tadi lalu kemudian lalu kemudian divonis sebagian orangtua dengan label yagn tidak tepat “penakut”.

 

Tapi memang terlalu hati-hati juga, bisa jadi masalah, nah ini mungkin yang disebut penakut beneran. Akhirnya setelah dewasa karena “terlalu” tadi, tidak segera diambil keputusan, tidak cepat bertindak, peluang yang sudah di depan mata lenyap seketika. Mau usaha? Takut rugi. Mau menikah? Takut kalau nanti cerai gimana. Mau presentasi? Takut gugup! Dan ini memang harus diatasi. Kehati-hatian yang berlebihan (takut) bisa tidak produktif untuk kehidupan anak di masa depan.

 

Tapi, jika anak-anak kita sudah akrab dengan orang baru tersebut, jika sudah sering bertemu dengan orang baru tersebut, setelah dia melihat orang baru tersebut ngobrol santai beberapa kali dengan orangtuanya, dia mau kok ngobrol dengan orang baru tersebut. Iya kan?

 

Demikian juga anak-anak yang takut gelap, takut main di luar, takut masuk kamar sendiri, atau takut kamar mandi, binatang kecil: semut, cacing, serangga bisa terjadi karena anak-anak ini terlalu hati-hati. Karena itu agar mereka tidak terlalu takut dengan hal yang demikian buat mereka akrab dengan yang mereka takutkan tersebut.

 

Misalnya saat anak takut gelap, saat ketakutan, tidak usah bereaksi berlebihan. Saat mati lampu juga orangtua tidak harus menekan-nekan anak untuk tidak takut gelap. Jadikan gelap sebagai sebuah permainan. Jadikan “gelap” yang menakutkan sebagai “gelap” yang menyenangkan. Ubah gelap menjadi gelap-gelapan. Hendaknya ini dilakukan justru bukan pada saat mati lampu. Pada saat terang benderang misalnya, “eh kita main gelap yuk, sebentar lagi mama akan matikan lampu, mama akan bersuara, lalu kalian harus samper mama, kira-kira mama ada dimana. Terus ntar gantian, kalian yang bersuara di saat gelap, ntar mama cari kalian!”

 

Lalu saat gelap beneran, karna mati listrik, karena mati lampu dan lain-lain. Buat acara lain seru-seruan khusus sesi gelap. Misalnya saat gelap, anak boleh main senter-senteran lebih lama. Misalnya lagi saat gelap kita akan main di luar rumah lebih lama. Ini juga bisa dijadikan lebih lama. “Sebenarnya kita tidak melihat apa-apa karena mata kita belum bisa menerima pantulan cahaya. Coba kita keluar rumah yuk, di luar meski tidak ada bulan, bisa kelihatan kan? Nah klo masuk lagi ke dalam rumah sedikit demi sedikit mata kita bisa melihat apa yang ada di rumah meski lampu masih belum nyala.”

 

Pada saat gelap juga anak bisa ditanamkan nilai-nilai kebaikan dari gelap.  “Kalian tahu, teman-teman kalian yang tidak bisa melihat, teman-teman kita yang buta, mereka diberikan kegelapan di matanya setiap hari, tapi mereka tidak takut. Sebab Allah bersama mereka.”

 

“Allah nggak kelihatan dari mana aku tahu Allah nemenin kita?”

 

“Apa yang nggak keliihatan belum tentu barangnya tidak ada nak?”

 

“Maksud mama?”

 

“Coba, lihat keluar, kamu percaya nggak angin itu ada?”

 

“Percaya”

 

“Dari mana kamu tau angin itu ada? Kelihatan nggak angin?”

 

“Nggak? Tapi kan daun bergerak-gerak mah?”

 

“Nah itu bukti-bukti adanya angin, tapi anginnya nggak kelihatan kan? Semua yang di dunia ini pasti ada yang menciptakan atau ada yang membuat. Kue ada yang membuat. Kursi yang mama dudukkin ada yang membuat. Meja makan ada yang membuat. Tempat kasur ada yang membuat. Coba kasi tau mama, mungkin nggak kasur itu ada dengan sendirinya?”

 

“Nggak lah”

 

“Ya alam semesta juga begitu. Nggak mungkin ada dengan sendirinya”

 

“Nah Allah itu sesunggunya selalu ada untuk melindungi kita meski Allah tidak kelihatan oleh kita. Asal kitanya berlindung kepada Allah, taat menjadi hamba Allah”.

 

Dan seterusnya orangtua dapat menjadikan ketakutan ini sebagai jalan justru untuk mengenalkan nilai-nilai spiritual pada anak.

 

Setelah sering mengalami gelap, apalagi saat gelap sering dijadikan momen permainan, maka anak lama-lama akan akrab dengan gelap dan insya Allah percaya deh suatu saat tidak akan lagi takut gelap.

 

Kejadian ini mirip dengan ketakutan pada kuburan, jujur siapa diantara Anda yang merasa gimana gituuu saat lewat kuburan sendirian di malam hari? Tapi mengapa kita tidak merasakan ketakutan itu di siang hari?

 

Sebagian orang takut dengan kuburan, karena memahami kuburan adalah tempat makhluk gaib. Entah bener atau tidak, orangtua saya sejak kecil sering mengatakan untuk tidak takut kuburan? Kenapa karena kuburan itu manusia sudah mati. Nggak mungkin hidup lagi. Yang hidup lagi hanya ada di film-film. Bahwa makhluk gaib itu ada, itu benar adanya, tapi orang mati tidak akan pernah hidup lagi ke dunia. Bahwa memang disebutkan di dalam nash-nash syariat tentang alam kubur. Tapi adakah satu ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa alam kubur (alam barzah) itu sama dengan di dalam kuburan?

 

Karena orangtua saya mengakrabkan istilah kuburan ini ke dalam pikiran saya dan bahkan ketika sejak kelas 3 SD waktu ikut camping kepanduan, sudah diakrab-akrabin di malam hari soal kuburan ini dengan acara jurit malam dan lain-lain, maka rasanya sampai hari ini saya tak takut-takut amat dengan kuburan ini. Kecuali mungkin ada orang yang memasukkan saya ke dalam kuburan. Ini baru mengerikan. Setidak-tidaknya, saya pernah berjalan kaki sendirian di tengah malam buta ke Gunung Manglayang, salah satu gunung di daerah Jatinangor Sumedang, dan lewat beberapa kuburan, rasanya hampir tak terbersit sedikit pun soal ketakutan dengan kuburan. Saya justru malah takut dengan adanya binatang buas atau manusia jahat.

 

Kuncinya ada pada keakraban dengan sesuatu yang ditakuti itu. Takut kuburan, gali informasi tentang kuburan yang benar dan lalu ajak anak main di dekat kuburan. Soal takut gelap, ajak anak akrab dengan gelap, bukan gelap itu sebagai salah satu momen permainan. Anak takut kodok, akrabi kodok, ajak anak main dengan kodok. Tentu dari jauh, pelan-pelan, orangtua sentuh itu kodok, biarkan anak melihat bahwa kodok itu tidak jahat!

 

Takut kecoa, kenalkan kecoa, katakan bahwa kecoa memang harus dijauhi karena kotor dan bisa jadi penyakit, tapi bukan berarti harus takut kecoa, apalagi, kecoa makhluk kecil dan lebih lemah dari manusia. Demikian juga takut cacing, laba-laba dan lain-lain, sepanjang tidak berbahaya, buat anak-anak kita akrab dengan yang mereka takutkan tersebut, setidak-tidaknya ini akan merubah persepsi mereka tentang ketakutan tadi. Membuat anak hati-hati itu boleh, tapi bukan berarti harus ditakut-takuti berlebihan dengan informasi yang tidak berdasar tentang kecoa, cacing, laba-laba dan lain-lain. “Awas… cacing itu bisa menghisappp darah kamu!” Haduh, please deh!

One thought on “Mengatasi Anak Penakut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s