Niatnya Tetaplah Sama

Mengajar di dua tempat yang jelas – jelas berbeda latar belakangnya membuat ku merasakan pengalaman yang berbeda juga. Yang satu di Sekolah Menengah Pertama yang terletak di sebuah kota kecil tapi jantungnya kab. Tegal , yang mayoritas penduduknya sudah maju. Apalagi ditambah dengan predikat yang menempel di sekolah tersebut, RSBI. Dan yang satunya lagi, terletak di pelosok desa, di daerah pegunungan, yang mayoritas penduduknya petani dan berdagang. Tepatnya di desa Begawat kec. Bumijawa dan nama SD dimana aku mengajar yaitu SD N Begawat 01.

Fasilitas di dua sekolah tersebut jelas – jelas berbeda. Dari ruangan kelas saja misalnya, di slawi, satu kelas hanya diisi maksimal 20 siswa. Papan tulis menggunakan white board dan di lengkapi AC dan proyektor. Jadi, guru hanya tinggal membawa laptop jika ingin menggunakannya.

Dibandingkan dengan sekolah yang satunya, ruangan kelas diisi 42 lebih, benar2 harus extra sabar menghadapi jumlah yang tidak sedkit itu, dengan berbagai macam karakter dan kepribadiannya. Papan tulis masih menggunakan blackboard, jadi guru masih menggunakan kapur sebagai alat untuk menulis di papan tulis. Tidak ada proyektor tapi ada AC ( alias angin sing endi bae….he). Mereka tidak memakai sepatu saat memasuki kelas. Sepatu – sepatu mereka tertata rapi di rak yang sekolah sediakan di depan kelas masing – masing. Hal itu dikarenakan jalan yang dilalui siswa sampai ke sekolah masih jalan setapak, jadi tanah – tanah akan menempel di sepatu. Jika siswa memakai sepatu ke kelas, pastilah sudah lantai kelas akan sangat kotor.

Siswa di kota jauh lebih mengusai teknologi dari pada siswa desa yang gaptek. Banyak dari mereka membawa netbook atau laptop, dan HP. Dan mereka sudah sangat biasa menggunakannya. Lain halnya dengan siswa SD di desa. Melihat gurunya membka HP yang sedikit bagus saja hebohnya sudah minta ampun. Seperti tidak pernah melihat alat komunikasi itu. Apalagi netbook atau laptop. Karena bentuknya sama, modem pun mereka nama flashdisk. Ada- ada saja mereka ( tapi mendinglah tau yang namanya flashdisk) dan banyak hal lain yang selalu selalu saja membuatku geli. Ketika ku ganti motor pun, mereka berkomentar “Bu guru ta motore ganti – ganti terus yah….aken nemen motore. Padahal hanya ganti satu motor, dibilang banyak dan itu pun ga sering.

Pernah suatu ketika aku menyarankan mereka untuk menabung da uang tabunganya itu di gunakan untuk membeli kamus. Eh…ada seorang siswa malah menjawab “ Dari pada anggo tuku kamus, suka anggo tuku beras ah bu guru…” dan siswa lain menjawab “ beras ta sing ngurusi wong tua nggih bu guru…”

Mereka sangat polos dan hal itu yang tidak pernah ku temui disana. Satu hal lagi, saat guru datang, mereka akan berbondong- bondong menyalami gurunya. Dan ketika pulang, disepanjang jalan pasti akan terdengar sapaan mereka “ kondur bu guru…” “ Kondur bu guru…” sampai terhilang dari pandangan mereka.  Dan ku hanya menjawab dengan senyum ‘ Nggih..’ hal hal seperti itulah yang tidak pernah kutemui disana, hanya dua atau tiga siswa yang menyapa “ Take care Miss….”

Tapi, dimanapun kita mengajar dan siapapun yang kita ajar, niatnya tetaplah sama. Memberikan ilmu. Mengajar dan medidik mereka. Satu harapan ku pada mereka, semoga apa yang aku berikan akan bermanfaat bagi mereka dan sesama.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s